A.
Modal Asing dalam
Pembangunan
Dalam
meningkatkan kesejahteraan kualitas hidup akan terwujud dengan cara melalui
pembangunan disegala bidang, khususnya di bidang ekonomi. Dalam melakukan
pembangunan membutuhkan modal, kemampuan (skill) dan teknologi. Modal dalam negeri masih belum
efektif dan efisien yang terlihat dari tingkat tabungan masyarakat masih
rendah. Demikian pula dalam hal keterampilan serta penguasaan teknologi yang
masih belum memadai untuk menunjang proses pembangunan.
Penanaman modal Asing (PMA) menjadi alternatif
untuk memenuhi kebutuhan modal pembangunan. Di Indonesia PMA diatur dalam
undang-undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) yang merupakan landasan hukum
mengalirnya PMA ke Indonesia. Sejalan dengan perubahan keadaan sosial, politik,
dan ekonomi, diperlukan peraturan PMA yang mampu mempercepat perkembangan
ekonomi nasional dalam mendorong terciptanya sasaran pembangunan ekonomi
nasional.
B.
Motivasi Negara
Donor
Pemberian
bantuan akan memperkuat ikatan keuangan antara Negara donor dengan penerima hutang.
Dengan kata lain, disituasi bantuan luar negeri dapat mempercepat bantuan, di
sisi lain juga menimbulkan dampak perluasan permintaan barang dan jasa dari
negeri pendonor.
C.
Sumber-sumber pembiayaan
Pembangunan Indonesia
1 Ekspor
Sebagian penganut system ekonomi
terbuka, lalu lintas perdagangan Internasional berperan penting dalam
perekonomian dan pembangunan di Indonesia. Pada dasawarsa 1970-an, ekspor
non-migas merupakan sumber utama penerimaan devisa Indonesia, yang menyumbang
hamper 80% dari penerimaan ekspor. Adanya lonjakan minyak yang pertama tahun
1974, telah mengubah profil ekspor secara drastis. Meskipun ekspor non-migas
meningkat dua kali lipat nilainya selama 1971-1975, pangsanya dalam total
ekspor menurun menjadi sekitar 25%. Sejak itu, situasi ekonomi Indonesia dan
prospeknya demikian terikat dengan perkembangan pasar minyak. Peran migas
sebagai sumber penerimaan Negara berlangsung hingga tahun 1981. setelah 1981
kontribusi migas mulai menurun hingga tahun 1985 menjadi 68.8% dari total
ekspor. Di lain pihak, peranan ekspor non-migas kembali meningkat akaibat
menurunnya harga minyak dan volume produksi. Pada tahun 1985, ekspor non-migas
meningkat lebih dari 31% dari total penerimaan ekspor.
2 Bantuan Luar Negeri
Ditinjau dari macamnya, bantuan
luar negeri yang masuk ke indonesia berupa:
· Pertama, bantuan program yang terdiri
atas bantuan devisa kredit dan bantuan pangan. Penjualan devisa serta komoditi
pangan dan non-pangan yang dari bantuan program dipergunakan untuk mencapai
sasaran stabilisasi ekonomi jangka pendek, baik untuk mengendalikan inflasi
maupun stabilisasi kurs rupiah.
-Kedua, bantuan proyek dengan
syarat-syarat pelunasan yang lunak digunakan untuk pembiayaan berbagai proyek
prasarana di bidang ekonomi dan sosial.
·Ketiga, pinjaman setengah lunak dan
komersial , termasuk didalamnya kredit ekspor.
·Keempat, pinjaman tunai berupa
pinjaman obligasi dan pinjaman dari kelompok bank.
Pinjaman Luar Negeri dianggap dapat
bermanfaat karena menambah sumber dana dan menutupi kesenjangan antara
investasi dan tabungan (I-S Gap), sehingga jika tidak dimanfaatkan berarti ada
kesempatan yang hilang.
3 Investasi Asing (PMA)
Selama periode yang diamati,
indonesia telah menjadi importir modal. Arus masuk modal asing (net capital
inflows) meningkat dari hampir 300 juta dolar AS per tahun pada akhir 1960-an
hinga lebih dari 13 miliar dolar AS pada tahun 1984. hanta terjadi satu kali
arus modal keluar (net capital outflow) pada tahun 1975 seiring dengan adanya
krisis Pertamina. PMA tercatat sedikit diatas 10% dari arus total, namun dalam
bebedrapa tahun, terutama awal pelita I, pangsanya hampir 1/3 dari arus total.
Umumnya, porsi terbesar PMA dia
lokasikan di sektor pertambangan dan minyak, sedang peringkat ke 2 di sektor
manufaktur (Hill, 1988:81). Selama periode 1967-1985, sektor migas menerima 78%
dari investasi total, sementara di sektor manufaktur hampir mencapai 20%. Investasi
di sektor pertanian dan jasa relatif sabgat kecil karena dibatasi kiprah modal
asing di sektor ini.
4 Tabungan Domestik
Tabungan domestik diperoleh dari
sektor pemerintah dan sektor masyarakat. Tabungan pemerintah yang dimaksud
adalah tabungan pemerintah dalam APBN, yang merupakan selisih anatara
penerimaan dalam negeri dengan pengeluaran rutin. Tabungan masyarakat merupakan
akumulasi dari Tabanas, Taska dan deposito berjangka. Tabungan ini dibutuhkan
untuk membiayai investasi.
D.
Struktur Pembiayaan
Pembangunan
Di saat Orde
Baru berkuasa banyak utang luar negeri dibuat dengan dalih untuk membangun
BUMN. Bantuan ini telah menginjeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan cara
menutup deficit anggaran pembangunan dan deficit neraca pembayaran.
Sturuktur pembiayaan pembangunan, dimana peran
bantuan luar negeri mencapai lebih dari 50 persen pada Pelita pertama dan
keempat. Kendati peranan bantuan luar negeri semakin menurun pada tahun-tahun
terakhir, namum persentase masih diatas 35 persen.
Utang luar negeri sebenarnya
merupakan alat politik. Bagi CGI, Bank Dunia, IMF, utang tidak boleh berhenti,
dalam hal ini justru yang meminjamkan yang tampak aktif. Hal ini karena bagi
mereka, utang merupakan alat untuk dapat melakukan intervensi politik. Utang juga
merupakan alat untuk memenuhi kebutuhan financial lembaga-lembaga tersebut. Pembangunan
dengan biaya utang ternyata tak dikelola dengan baik, banyak dikorupsi,
sehingga akibatnya terjadi krisis demi krisis yang paling parah pada tahun
1997-98. Dari sekian krisis yang terjadi, mungkin ketimpangan menjadi hal yang
paling tidak terlihat di Indonesia.
Nice 🤗
BalasHapus